Jumat, 09 November 2018

Membongkar Kejahatan Perkosaan Kepada Perempuan



Ilustrasi gambar: dari tehelka.com

Sekarang lagi ramai berita dan opini tentang kasus dugaan perkosaan di dalam tubuh UGM, sehingga UGM menjadi sorotan. 

Kaum lelaki memang kurang ajar. Laki-lakilah yang sering memperkosa. Daripada memperkosa, mbokyao mending dijepitkan ke pagar bambu sana, anumu! 

Ada juga, pernah seorang mahasiswi yang curhat kepada saya, dia mau diajak kencan dosen pembimbing skripsinya, tapi dia menolak. Dia curhat begitu ketakutan, tentang konsekuensi penolakannya itu apakah akan ada akibat terhadap kelancaran skripsinya. Saya bilang kepadanya, “Kamu tak usah cemas. Jika dia mempersulit skripsimu, saya akan menguliti kedoknya. Kamu sebut namaku di depannya, dia pasti akan bilang, “Siapa itu aku gak kenal, haha.....” Alhamdulillah kekhawatirannya itu tidak terjadi. Dia sekarang sudah sarjana.

Saya hendak berkisah tentang sebuah kasus dugaan perkosaan. Dahulu, kasus itu menjadi berita lokal yang cukup besar di Surabaya dan Gresik. Tapi karena kasus ini kasus rakyat kecil, ya tidak seheboh kasus perkosaan mahasiswa UGM yang gaungnya jadi internasional itu.

Jika tidak salah (saat menulis ini saya malas membongkar berkas), sekitar lebih dari tujuh tahun lalu, saya dimintai pendapat rekan kantorku untuk membela empat orang (anak) tersangka pemerkosa. Empat tersangka tersebut, yang dua orang berumur 16 tahun, yang dua orang berumur 18 dan 19 tahun. Korbannya seorang cewek berumur 21 tahun.

“Saya tidak mungkin mau menjadi pembela para pemerkosa. Biar saja mereka dihukum berat atas perbuatannya. Saya punya ibu dan anak perempuan. Saya bisa membayangkan betapa menderitanya perasaan perempuan korban perkosaan,” kataku. Aku menolak menjadi penasihat hukum empat tersangka yang sudah ditangkap dan ditahan.

“Jangan buru-buru menolak! Coba tanyai dulu mereka para tersangka itu. Ibu mereka yang datang kepadaku, menangis, meminta bantuan. Mereka orang-orang tidak mampu.” Saya biasanya kalau ada kalimat “orang tidak mampu membutuhkan bantuan hukum” ini jadi ingat kemiskinanku sendiri sejak lahir. Trenyuh.

Hatiku sedikit luluh. Aku datangi kantor polisi tempat empat tersangka itu ditahan. Kebetulan saya kenal dengan kepala unit kepolisian yang menjadi penyidik perkara ini. Saya dipersilahkan menemui empat tersangka itu. Masih remaja. Saya memandangi wajah-wajah yang lusuh dan letih.

“Kami diminta ibu kalian untuk bertemu dengan kalian. Mengapa kalian tega memperkosa seorang gadis? Itu perempuan. Ibumu juga perempuan kan?” tanyaku retoris.
“Tidak ada perkosaan Pak. Ini tuduhan bohong. Kami tidak memperkosa gadis itu.” Jawab tersangka yang berumur 19 tahun. Rupanya dia yang menjadi tersangka utama. Tuduhannya adalah “memperkosa dengan cara menggilir menyetubuhi korban.” Kejahatan yang sadis.
“Jika tidak memperkosanya, lalu apa yang kalian lakukan sehingga kalian ditangkap polisi dan ditahan di sini?” tanyaku.

Maka pemuda 19 tahun yang menjadi tersangka itu berkisah. “Pada mulanya saya sendiri Pak yang mengenal gadis itu. Dia bekerja sebagai penjaga toko asesoris HP. Saya bertukar nomor HP dengan dia. Saya seperti pacaran dengan dia. Lalu suatu saat saya janjian dengan dia untuk bertemu di sebuah tempat. Kami bertemu di tempat itu. Lalu saya SMS tiga teman saya ini, sehingga mereka datang. Saat itu saya memang meraba-raba tubuh cewek itu. Saya ngremponi dia (ngremponi = meremas payudaranya). Tadinya sebelum tiga teman saya ini datang, dia mau Pak. Tapi setelah teman-teman saya datang, dia tidak mau. Lalu teman-temanku ini ikut meraba-raba dia. Lalu ada seorang satpam yang lewat dan memergoki kami, sehingga kami lari.”

Saya pun bertanya kepada tiga tersangka lainnya itu. “Apa benar ceritanya seperti itu?” Maka tiga orang tersangka lainnya membenarkan cerita temannya yang paling gede itu.
Saya tidak percaya begitu saja. Saya menguji psikis mereka. “Baiklah. Saya percaya dengan kalian. Mungkin saya akan membela kalian, tapi dengan syarat bahwa saya yakin kalian tidak memperkosa cewek itu. Untuk itu, saya mau kalian bersumpah di hadapan saya dengan kalimat sumpah seperti ini: “Saya bersumpah, demi Allah, bahwa saya tidak melakukan perkosaan kepada gadis bernama ................ sebagaimana yang dituduhkan kepada kami. Jika sumpah saya ini tidak benar maka semogaa Allah mengutuk saya dan memberikan azab langsung, yaitu kami akan mati ditabrak truk jika perkara ini telah selesai diadili.” Bagaimana, kalian mau bersumpah seperti itu?”

Empat orang tersangka itu bersumpah di hadapan saya dengan sumpah yang kalimatnya telah saya tetapkan itu. Maka, saya menyanggupi menjadi penasihat hukum untuk membela mereka. Waktu itu saya berpikir, jika mereka tidak melakukan perkosaan maka mereka tidak boleh dihukum karena perkosaan. Tapi jika memerasi payudaranya dengan paksa, maka harus dihukum karena pencabulan. Jadi, hukuman harus dijatuhkan sesuai perbuatannya, bukan terhadap hal yang tidak dilakukannya.
Singkat cerita, kasus mulai disidangkan dalam sidang yang tertutup untuk umum, karena itu kasus asusila.

Gadis yang menjadi korban dihadirkan sebagai saksi korban. Terhadap pertanyaan majelis hakim dan jaksa penuntut umum, gadis itu menjelaskan bahwa dirinya telah diperkosa oleh empat orang terdakwa itu dengan cara disetubuhi paksa secara digilir, hingga peristiwa perkosaan itu berakhir setelah dipergoki oleh seorang satpam. (Hanya saja, sayangnya satpam tersebut tidak dijadikan sebagai saksi yang hadir dalam sidang perkara tersebut).

Saat tiba giliran saya bertanya, maka gadis korban tersebut saya berikan pertanyaan-pertanyaan guna menggali kebenaran keterangannya lebih lanjut.
“Saudari saksi korban... Sidang ini tertutup dan kami punya kewajiban menjaga kerahasiaan dari apa yang Anda terangkan. Jadi di sini bagi Anda tidak perlu ada ketakutan, kecemasan atau perasaan was-was. Saya ini seorang ayah dari anak saya yang juga perempuan. Saya punya anak perempuan. Saya bisa memahami rasa derita yang Anda rasakan. Saya turut prihatin dengan adanya kasus ini. Jika memang para terdakwa yang saya dampingi ini bersalah, mereka memang harus dihukum. Saya bukan pengacara yang asal membela orang, dalam arti jika klien saya bersalah ya harus dihukum,” kataku. “Maaf ya, saya punya pertanyaan dan ini pertanyaan sangat pribadi...  Apakah sebelum ada peristiwa perkosaan ini Anda sudah pernah punya pacar dan pernah melakukan hubungan badan?” tanyaku. “
“Saya belum pernah melakukan hubungan badan sebelumnya Pak,” jawabnya.
“Baik. Begini saudari saksi. Saya pernah membaca artikel tentang perempuan yang melakukan hubungan seks pertama kali di malam pertama setelah menikah. Katanya, bagi yang masih perawan ada yang mengeluarkan darah karena robeknya himen atau apa. Tapi ada juga yang tidak mengeluarkan darah. Maksud saya begini, pada saat Anda diperkosa oleh para terdakwa ini secara bergilir, saat itu Anda masih perawan, sesuai jawaban saudara tadi. Jika Anda digilir oleh empat terdakwa ini dalam perkosaan itu, maka saat itu ada keluar darah atau tidak dari vagina Anda?” tanyaku.
“Iya Pak, ada keluar darah dari vagina saya,” jawabnya.
“Nah, pada saat Anda mulai diperkosa, tentunya yang melepas celana dalam Anda adalah para terdakwa ini. Tadi Anda menerangkan bahwa perkosaan itu terhenti karena dipergoki oleh seorang satpam yang lewat di tempat kejadian. Para terdakwa ini lari, kabur. Lalu Anda ditolong oleh satpam itu. Pertanyaan saya, apakah setelah kejadian itu Anda sempat mengenakan kembali celana dalam Anda?” tanyaku.
“Iya Pak. Saya ambil celana dalam saya dan saya pakai lagi,” jawabnya.
“Apa warna celana dalam yang Anda pakai saat itu?” tanyaku.
“Warna krem Pak,” jawabnya.
“Anda tadi menerangkan jika vagina Anda berdarah setelah terjadi perkosaan. Lalu selanjutnya setelah peristiwa perkosaan berakhir, Anda mengenakan kembali celana dalam Anda. Selanjutnya setelah sampai di rumah, apa yang Anda lakukan dengan baju Anda, termasuk celana dalam itu?” tanyaku.
“Saya melepasnya Pak. Lalu dikemasi oleh ibuku. Lalu saya mandi,” jawabnya.
“Apakah Anda bisa melihat saat Anda melepas baju dan celana dalam Anda sewaktu di rumah itu, adakah bekas darah di celana dalam Anda?” tanyaku.
“Iya Pak. Ada bekas darahnya,” jawabnya.

Lalu saya meminta kepada majelis hakim untuk memerintahkan kepada jaksa penuntut umum guna menunjukkan dan memeriksa barang bukti, termasuk apakah celana dalam milik korban tersebut dijadikan barang bukti. Saya, korban, majelis hakim, jaksa dan para terdakwa bersama-sama di hadapan meja sidang memeriksa celana dalam milik korban.
“Saudari saksi.... Anda tadi menerangkan katanya ada bekas darah di celana dalam Anda. Benar ini kan celana dalam yang Anda pakai saat itu? Ternyata ini tidak ada bekas darahnya?” tanyaku.
Majelis hakim memerintahkan kami untuk kembali duduk di kursi kami masing-masing.
“Silahkan saksi menjawab pertanyaan penasihat hukum!” perintah Ketua majelis hakimnya.
“Iya Pak. Itu tidak ada bekas darahnya, karena sebelum diserahkan ke polisi celana dalam dan baju saya yang saya pakai waktui itu sudah dicuci oleh ibu saya,” jawab korban.
“Baiklah.. Pertanyaan saya selanjutnya adalah: Ketika terdakwa ini (saya menunjuk terdakwa yang umur 19 tahun) yang kata Anda pertama kali memperkosa Anda, saat terdakwa ini mulai menindih dan memasukkan kelaminnya ke vagina Anda, maka apa yang Anda rasakan pada waktu itu?” tanyaku.
Gadis itu diam sebentar, seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Lalu dia melihatku. (Setiap aku bertanya kepadanya aku selalu merendahkan suaraku dan tersenyum kepadanya, dengan maksud agar dia tidak merasa tertekan).
“Waktu itu saya tidak merasakan apa-apa Pak,” jawabnya. Saya mulai curiga dengan jawabannya itu.
“Pada saat Anda diperkosa, Anda sadar atau pingsan?” tanyaku.
“Saya sadar Pak,” jawabnya. Dia tampak mulia gelisah.
“Anda tidak merasakan apa-apa? Benar begitu? Bisakah Anda mengira-ngira dari rasa saat Anda ditindih dan diperkosa saat itu, apakah Anda bisa merasakan bahwa kelamin terdakwa ini masuk ke vagina Anda?” tanyaku.
Gadis itu diam sejenak. Lalu dia menjawab, “Ya rasanya dingin begitu Pak.”
“Tidak ada rasa nyeri?” tanyaku.
“Tidak Pak,” jawabnya.
“Setelah itu selanjutnya apa yang terjadi?” tanyaku.
“Ya itu Pak, setelah itu ada satpam lewat, lalu dia dan teman-temannya itu lari,” jawabnya.
“Loh.... Anda harus jujur loh ya. Tadi Anda menerangkan kepada Pak Hakim dan Pak Jaksa, katanya Anda ini diperkosa secara digilir oleh empat terdakwa ini? Kok sekarang keterangannya berubah? Kok jadinya hanya diperkosa satu terdakwa ini, terus dipergoki satpam, lalu para terdakwa lari. Jika demikian, anda hanya diperkosa satu orang terdakwa ini? Apakah begitu?”
Tiba-tiba terdakwa yang berumur 19 tahun menyela, “Dia memang bohong itu Pak! Saya juga tidak memperkosanya!”
Saya pun membentak terdakwa itu, “Diam kamu! Jika tidak disuruh bicara oleh Hakim, kamu jangan sembarangan menyela omongan!” semprotku dengan marah. Terdakwa itu pun diam menunduk.
“Silahkan Anda menjawab pertanyaan saya tadi. Jadi yang benar bagaimana? Saudara hanya diperkosa oleh satu orang terdakwa ini, atau digilir oleh empat terdaakwa ini?” tanyaku kepada gadis korban itu.
“Diperkosa oleh dia Pak. Teman-temannya itu tapi membantu memegangi saya,” jawab gadis itu.
“Baiklah. Jadi kalau begitu Anda tidak digilir oleh empat terdakwa ini ya. Berarti yang tiga hanya sebagai pelaku yang membantu perkosaan itu. Apakah benar begitu? Atau bagaimana?”
“Iya Pak. Teman-temannya hanya membantu memegangi saya,” jawabnya.

Setelah selesai memeriksa keterangan gadis korban tersebut maka ibunya yang berada di luar ruangan dipanggil masuk untuk memberi keterangan sebagai saksi. Setelah tiba giliranku bertanya, maka saya mengonfirmasi keterangan gadis korban tadi yang menerangkan peran ibunya yang katanya mencuci baju anaknya yang menjadi korban perkosaan tersebut.
“Saudari saksi kan ibu dari korban ya. Nah, pada waktu kejadian perkosaan Anda kan tidak mengetahuinya. Anda tahu saat anak Anda datang, katanya diantar oleh seorang satpam. Pertanyaan saya, saat anak Anda datang dalam keadaan demikian yang katanya habis diperkosa itu, maka apakah yang Anda lakukan untuk merawat dan menenangkan anak Anda tersebut pada malam hari itu?” tanyaku.
“Saya menyuruhnya segera  mandi Pak. Besoknya saya baru ke kantor polisi bersama dengan suami saya dan anak saya itu untuk melaporkan kejadian pemerkosaan itu,“ jawabnya.
“Ketika waktu itu Anda menyuruh anak Anda mandi, lalu siapa yang mengemasi bajunya, apakah anak gadis Anda sendiri, ataukah Anda?” tanyaku.
“Yang mengemasi bajunya ya saya Pak,” jawabnya.
“Apakah termasuk celana dalam yang dipakai saat perisitwa perkosaan itu?” tanyaku.
“Iya Pak,” jawabnya.
Lalu saya memohon untuk dilakukan pemeriksaan barang bukti celana dalam itu di muka sidang tersebut agar ibu korban tersebut melihatnya, dan dia membenarkan memang barang bukti tersebut adalah celana dalam dan baju korban yang dipakai saat terjadi perisitwa perkosaan tersebut.
“Apakah ibu pernah mencuci baju-baju anak ibu tersebut, termasuk celana dalamnya, sebelum diserahkan atau setelah diserahkan kepada polisi untuk barang bukti?” tanyaku.
“Tidak Pak. Malam itu saya kemasi bajunya, saya masukkan ke dalam tas plastik, lalu besok paginya saya bawa ke kantor polisi saat laporan masalah pemerkosaan itu dan saya serahkan kepada polisi tempat saya melapor itu Pak,” jawab ibu dari korban tersebut.
Dari keterangan saksi korban dan ibunya tersebut ada perbedaan. Korban mengatakan bahwa celana dalamnya terdapat bekas darah dan hilang bekas darahnya karena dicuci oleh ibunya, tetapi ibunya menerangkan bahwa dia tidak pernah mencuci celana dalam korban dan dalam pemeriksaan barang bukti di muka meja hakimnya ibu korban tersebut menerangkan bahwa memang celana dalam anaknya tersebut tidak ada bekas darahnya.

Pada akhirnya, majelis hakim perkara tersebut tidak yakin adanya peristiwa perkosaan secara bergilir. Saya setuju dengan pendapat majelis hakim bahwa dalam perkara tersebut yang terjadi adalah kejahatan pencabulan, sehingga terdakwa yang berumur 18 dan 19 tahun itu dihukum enam bulan penjara dan dua terdakwa yang berumur 16 tahun dihukum dengan pidana penjara enam bulan dengan masa percobaan selama satu tahun.

Hal yang hingga sekarang saya belum menemukan jawabannya adalah: mengapa kasus pencabulan itu dikonstruksikan seolah merupakan kasus perkosaan yang dilakukan dengan cara keji, yakni: diperkosa dengan cara disetubuhi bergilir oleh empat pelaku. Saya sempat mendapatkan informasi bahwa menjadi menjadi dalang skenario “pembengkakan” kasus itu adalah si anu... Tapi sayangnya saya kesulitan mendapatkan buktinya sebab saya sudah tidak bisa berkomunikasi lagi dengan keluarga korban setelah kasus itu diputus Pengadilan.

Kasus tersebut dramatis. Para orang tua remaja-remaja yang melakukan pencabulan itu didatangi oleh orang-orang yang mengaku pejabat, diintimidasi, disuruh membayar sejumlah uang dengan ancaman-ancaman. Tapi kami dengan telaten mendampingi dan mengarahkan mereka.

Kasus tersebut semula sudah menjadi berita media massa yang terkenal dengan isi berita yang memberi stigma seolah para pelaku telah melakukan perkosaan dengan cara yang kejam, yakni memperkosa secara menyetubuhi paksa secara bergilir empat orang. Tetapi setelah fakta-faktanya terungkap dalam persidangan dan setelah adanya putusan pengadilan, opini yang pertama kali muncul tentang adanya perkosaan secara keji itu tidak dapat dilenyapkan begitu saja. Kesembuhan luka sosial akibat informasi sesat itu berjalan perlahan-lahan seiring waktu berjalan.

Artinya begini, bahwa apa yang menjadi berita dan opini yang sudah terlanjur tersebar itu belum tentu merupakan opini dan berita yang menunjukkan kebenaran yang sejatinya, sebelum kebenaran itu benar-benar diuji dalam sebuah pemeriksaan yang fair dan berimbang.

Oleh sebab itu, saya menyarankan agar kasus perkosaan yang menimpa gadis UGM itu dibawa saja ke ranah hukum, agar dapat diuji secara fair untuk menemukan bagaimana kejadian yang sesungguhnya. Kasus tersebut bukanlah kasus tertangkap tangan, tetapi kasus yang kejadiannya tidak ada yang menyaksikan. Dibutuhkan teknik pemeriksaan yang mestinya harus dilakukan dengan cara-cara yang “kreatif” untuk membongkar peristiwa yang sebenarnya.

Mungkin nantinya putusan Hakim tidak akan memuaskan, tetapi dengan mengujinya melalui pemeriksaan yang fair di muka pengadilan maka di sana akan diperoleh fakta-fakta yang lebih jelas, daripada hanya menjadi gosip di medsos.

Pendamping korban harus meyakinkan korban atau keluarganya untuk meleporkan masalah itu ke Kepolisian, jika memang tim UGM yang telah melakukan investigasi tidak mau melaporkannya ke Kepolisian. Tapi tentu bukan dengan memaksanya.

Jika memang itu kejahatan, apakah itu kejahatan perkosaan ataukah pencabulan, harus dapat dipastikan. Ataukah jangan-jangan bukan keduanya? Korban perkosaan ataupun pencabulan harus direparasi hak-haknya, terutama mentalnya agar bangkit kembali bersemangat. Sebaliknya, korban kesesatan informasi juga harus direparasi haknya.

Orang yang melakukan kejahatan harus dihukum sesuai dengan perbuatan nyata yang dilakukannya, bukan dihukum dengan hukuman yang melebihi dari kadar perbuatan jahatnya. Itu salah satu prinsip keadilan.




Jumat, 13 Juli 2018

Divestasi Saham Freeport dan Kehebatan Rezim Jokowi - Kalla



Sumber foto: Indonesiachannel.com

“Lihat tuh! Belum sampai lima tahun jadi presiden, Jokowi sudah sukses mendivestasi saham Freeport sebesar 51 %. Hebat kan? Presiden sebelumnya tidak bisa sehebat Pak Jokowi. Ke mana saja SBY selama 10 tahun menjadi presiden kok tidak mampu melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Bapak Jokowi? Makanya jangan sibuk ngarang lagu saja!” Hehe…..

Hari ini ramai puja puji kepada Presiden Jokowi. Katanya pemerintah berhasil mendivestasi saham Freeport sebesat 51 % senilai 3,85 M dollar AS yang akan diserahkan kepada BUMN, Inalum. Untuk membeli 51 % saham Freeport itu maka pemerintah harus memberikan duit kepada Freeport sekitar Rp 55 T. Menurut berita yang tersebar, pemerintah (cq. Inalum) akan utang kepada bank-bank termasuk bank asing.

Sebenarnya Kontrak Karya Ke-dua antara pemerintah Indonesia dengan Freeport akan berakhir tahun 2021. Kontrak Karya Pertama berlaku tahun 1967 – 1991.

Terjadilah perundingan antara Freeport dengan pemerintahan Jokowi – Kalla. Tentu saja Freeport tidak akan membiarkan harta kekayaan yang berada dalam genggamannya lepas dengan mudah.  Hasil nego membuahkan hasil, pemerintah Jokowi – Kalla menyepakati diberikannya Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK), sebagai pengganti dari Kontrak Karya (sebagai konsekuensi berlakunya UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara), 2 x 10 tahun, atau berakhir hingga tahun 2041. Jadi, Kontrak Karya dengan Freeport yang sedianya berakhir tahun 2021, oleh pemerintahan Jokowi – JK telah diperpanjang dengan menggunakan IUPK sampai dengan tahun 2041.

Mengapa Tidak Diakhiri?

Para pendukung Jokowi mengucapkan selamat kepada Presiden Jokowi yang katanya mampu  “mengembalikan kekayaan emas Papua ke pangkuan Ibu Pertiwi.” Namun ada sebuah pertanyaan yang terselip di benak saya: “Mengapa rezim Jokowi – Kalla tidak membiarkan Kontrak Karya Freeport itu berakhir saja tahun 2021? Mengapa diperpanjang dengan memberikan IUPK hingga tahun 2041?

Apakah jika tidak diberikan IUP hingga tahun 2041 maka pemerintah atau BUMN kita tidak punya uang untuk mengelolanya sendiri? Bukankah dengan divestasi saham Freeport toh pemerintah / BUMN harus mengeluarkan uang, membeli 51 % saham Freeport senilai sekitar Rp 55 T. Untuk mendapatkan uang tersebut juga dengan cara utang meskipun mungkin tidak seluruhnya?

Apakah uang Rp 55 T tersebut tidak cukup untuk membeli peralatan dan biaya operasional tambang emas dan tembaga tersebut? Apakah tidak bisa dengan cara mempekerjakan para kontraktor tambang jika memang tidak mampu membeli peralatan sendiri? Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan saya sebagai awam teknik pertambangan dan ekonominya. Tetapi saya jelas ingat bagaimana para penambang tradisional yang mampu untuk mendapatkan emas dengan peralatan sederhana dan seadanya. Bahkan bos-bos mereka bisa kaya karena tambang tradisional itu. Saya tidak terlalu percaya jika negara sekelas Indonesia ini tidak mampu. Ingat bahwa Freeport itu memulai tambang di Papua itu dengan teknologi kuno zaman dulu dan modal bantuan kekuasaan Suharto. Apakah zaman sekarang Indonesia tidak mampu dengan teknologi kuno jika tidak mampu dengan teknologi modern?

Freeport menguntungkan?

Apakah ada yang ingat soal ini? Badan Pemeriksaan Keuangan pernah menyampaikan laporan hasil pemeriksaan terhadap pelaksanaan Kontrak Karya tahun 2013 – 2015 yang menyebabkan timbulnya potensi kerugian negara sebesar Rp 185 T.  Pelanggaran yang dilakukan Freeport menurut BPK, pertama adalah kerugian akibat pemakaian kawasan hutan lindung tanpa izin pinjam pakai lahan di tahun 2008 – 2015 seluas 4.535, 93 hektar. Kedua, kelebihan pencairan dana reklamasi kepada Freeport sebesar 1,43 dollar AS berdasarkan kurs tengah BI tanggal 25 Mei 2016. Ketiga, Freeport melakukan usaha tambang bawah tanah tanpa AMDAL dan tanpa Izin Lingkungan karena AMDAL yang dimiliki Freeport sejak tahun 1997 tidak termasuk untuk kegiatan tambang bawah tanah. Keempat, terjadinya kerusakan lingkungan akibat pembuangan limbah operasional di sungai, muara dan laut. Kelima, Freeport belum menyetor kewajiban dana pascatambang kepada pemerintah.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa pemerintah harus mencairkan dana reklamasi kepada Freeprot? Pada tahun 1996 diterbitkan Keputusan Dirjen Pertambangan Umum (zaman Menteri Kuntoro Mangkusubroto) No. 336.K/271DDJP/1996 sebagai pelaksanaan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No. 1211.K/008/M.PE/1995 tanggal 17 Juli 1995 yang mewajibkan perusahaan-perusahaan pertambangan untuk menyampaikan perhitungan biaya reklamasi dan memberikan jaminan biaya reklamasi dalam bentuk deposito berjangka atau accounting reserve di mana usulan itu harus disetujui oleh Dirjen Pertambangan dan Energi. Kewajiban bagi korporasi tambang untuk melakukan pemulihan lingkungan tersebut juga ditentukan dalam Pasal 96 huruf c UU No. 4 Tahun 2009 tersebut. Jadi, Freeport tentu mempunyai deposit uang jaminan pemulihan lingkungan yang disetorkan dengan bentuk deposito yang dapat dicairkan untuk kegiatan pemulihan lingkungan.

Nah, dalam soal itu pada umumnya masyarakat tidak mengetahui tentang rencana biaya reklamasi dan berapa besarnya serta bagaimana dengan penggunaannya. Masyarakat selaku pihak yang terdampak sebenarnya berhak untuk mengetahui hal-hal seperti itu.

Selain masalah lingkungan hidup (ekologi), riwayat operasional Freeport juga berlumuran darah. Rezim Sukarno yang dinilai sebagai penghalang kebebasan korporasi asing dalam mengeruk kekayaan di negara ini dijatuhkan di tahun 1967. Selanjutnya pemerintah Orde Baru menandatangani Kontrak Kerja (KK) dengan Freeport. Kemudian Freeport melakukan eksplorasi tambang di Erstberg yang dilanjutkan dengan tambang Grasberg tahun 1988. Operasi tambang Freeport diperkirakan memakan korban penduduk tewas sekitar sebanyak 500 ribu orang dengan menggunakan kekerasan militer (Abigail Abrash dalam Human Rights Abuses by Freeport in Indonesia, 2002). Kasus tersebut seharusnya menjadi kasus pelanggaran HAM yang berat yang harus dibawa ke Pengadilan HAM.

Jadi, apa hebatnya negara ini dalam menghadapi Freeport? Menurut saya, kedamaian bangsa Papua lebih berharga dibandingkan hasil penjualan emas yang merusak ekologi dan sosial masayarakat Papua. Jika ingin Papua merasa nyaman sebagai bagian NKRI maka seharusnya pemerintahan Indonesia tidak melanjutkan penganiayaan itu. Sudahi derita masyarakat Papua yang dikalahkan oleh pertimbangan ekonomi yang sebenarnya menginjak-injak harga diri bangsa ini. Tanpa perusahaan tambang emas itu, Papua dan negara ini bisa mendapatkan kemudahan hidup lainnya dengan perekonomian yang tidak perlu melakukan kerusakan separah itu, mengorbankan masyarakat sekitarnya, meletakkan harga diri bangsa di bawah telapak kaki korporasi. Dengan ekonomi pertanian, perikanan  dan kelautan serta pariwisata, jika dikelola dengan baik dan jujur, maka itu sudah cukup bagi bangsa ini. Masalahnya adalah otak kita telah dicetak menjadi hamba korporasi atas nama isu kesejahteraan yang sebenarnya secara riil hanya memperkaya sedikit orang.

Andaikan tanpa perundingan apapun yang dilakukan oleh rezim Jokowi – Kalla dengan Freeport, maka derita bangsa Papua akan berakhir tahun 2021 dan harga diri bangsa ini bisa lebih tegak.

Rabu, 12 Juli 2017

PERPPU Pembubaran DPR, KPK dan Rakyat Santai


Sumber foto: Tempo/Tony Hartawan

Saat ini orang riuh meriuhkan DPR yang mengangket KPK. Ada profesor yang berdebat tentang kebenaran kewenangan DPR dalam menggunakan Hak Angket terhadap KPK. Ada yang bilang KPK itu bukan lembaga eksekutif sehingga DPR tak wenang mengawasinya dengan Hak Angket. Ada yang bilang KPK itu termasuk eksekutif karena dalam Trias Politica posisi KPK bukan yudikatif dan bukan legislatif.

Kok heboh nian. Saudara-Saudara kurang rileks, kurang santai dalam berpikir. Yang santai, yang wening, sehingga akan bisa menilai bahwa sandiwara adalah tontonan yang cukup bisa menghibur, bukan malah memakan hati meletupkan emosi.

Kalau saya sebagai seorang rakyat santai dan biasa, cukup meninjau dari satu sudut penting dan satu sudut agak penting. Sudut pentingnya adalah dengan pertanyaan: apakah penggunaan Hak Angket DPR kepada KPK bisa membuat akhir yang buruk bagi KPK? Sudut yang agak penting adalah kembali bertanya kepada diri-sendiri, yakni: sudah relakah aku diwakili oleh DPR dalam urusan-urusan pemerintahan tertentu?

Mari kita uji satu persatu. Bukankah penggunaan Hak Angket DPR kepada KPK tidak akan mungkin berakhir dengan pemangkasan kewenangan KPK atau membunuh KPK? Dalam hal ini, Saudara yang tak suka dengan DPR bisa menahan emosi dengan menggunakan pepatah “DPR menggonggong KPK tetap bebas riang berlalu.” Dan bagiku, biarpun DPR bersuara menggelegar memenuhi langit, tapi DPR bukanlah petir yang dapat menyambar hangus KPK.

Seumpama dalam kesimpulan angketnya nanti DPR berkesimpulan bahwa KPK adalah setan yang harus dibasmi, tapi siapakah yang akan mengeksekusi kesimpulan tersebut? Tidak ada. Dari segi yang penting itu maka Hak Angket DPR bukanlah ancaman bagi KPK.

Selanjutnya dari segi yang agak penting adalah menyangkut hakikat DPR. Katanya konsensus di negara ini menempatkan DPR sebagai wakil rakyat. Dalam makna yang luas, rakyat boleh mengawasi semua lembaga aparatur negara dan pemerintah tanpa perlu diberikan sekat yang bernama “independensi lembaga.” Lha kalau menjadi lembaga negara independen, tidak boleh dikontrol? Itu asas superliberal. Liberalisme ditentang para pendiri NKRI ini. Silahkan teliti gagasan-gagasan para pendiri NKRI di sidang-sidang BPUPKI dan PPKI.

Jika Saudara menggunakan alat takaran Hukum Tata Negara tentang kesetaraan kedudukan lembaga-lembaga tinggi negara, maka DPR tak layak untuk mengawasi presiden, MA, MK, BPK, KY, MPR. Setara kok mengontrol? Pihak yang mengontrol itu yang kedudukannya lebih tinggi. Lha masak mandor mengawasi mandor? Tapi Saudara disodori  prinsip cheks and balances di mana lembaga-lembaga negara itu saling mengontrol. Itu sistem hukum pasar bebas yang mengharapkan keseimbangan dengan hubungan-hubungan alamiah yang terjadi. Pasar bebas itu liberalisme.

Saudara akan mendapatkan kenyataan yang tidak tuntas dalam sistem tata negara dan tata hukum itu. Di Indonesia ini, jika ada lembaga-lembaga tinggi negara yang bersengketa, maka MK menjadi wasitnya. Aturannya begitu. Tapi kalau MK sendiri yang bersengketa dengan lembaga tinggi negara lainnya (misalnya bersengketa dengan MA), lalu siapa yang akan menjadi wasitnya? Tidak ada.

Kalau Saudara mengajukan uji materiil Peraturan Presiden, Peraturan Menteri, Peraturan Daerah dan lain-lainnya peraturan di bawah Undang-Undang (UU) maka yang berwenang menguji adalah MA. Kalau UU diuji oleh MK. Tapi kalau Saudara merasa ada Peraturan MA yang merugikan Saudara, ke mana Saudara mengajukan permohonan uji materiil terhadap Peraturan MA itu? Menurut aturannya ya ke MA. Lantas bagaimana putusan MA nantinya yang mengadili produknya sendiri yang berupa Peraturan MA itu? Kan aneh?

Kembali ke DPR dan KPK. Kalau Saudara menggunakan ukuran hakikat DPR sebagai wakil rakyat, kan boleh-boleh saja DPR selaku wakil rakyat mengundang dan bertanya kepada lembaga-lembaga apapun di negara ini yang menjalankan urusan pemerintahan dan kenegaraan? Coba Saudara mikirnya jangan positivistik melulu tentang fungsi DPR menurut UUD 1945. Praktik ketatanegaraan berdasarkan kebiasaan (konvensi) itu juga bagian dari konstitusi. Kan begitu teorinya? Padahal kebiasaan itu ya berangkat dari hal yang tadinya tidak biasa.

Lha wong hanya mengundang dan meminta keterangan saja kok diributkan? Yang penting kan DPR tidak menjadi tirani yang bisa membubarkan lembaga ini dan itu. DPR itu jangankan membubarkan KPK, lha mengurangi kewenanangannya saja tak bisa, kecuali dengan membuat UU yang harus ada persetujuan presiden. DPR tidak bisa bertindak sendiri dalam membuat UU.

Ada lagi professor yang berdebat tentang KPK itu termasuk lembaga eksekutif atau bukan. Jawabannya dijadikan ukuran bahwa Hak Angket DPR itu hanya untuk eksekutif (pemerintah). Jika KPK bukan lembaga eksekutif maka DPR tidak berwenang menggunakan Hak Angket kepada KPK.

Saya geleng-geleng kepala. Mengapa para profesor ini membayangkan diri di abad ide Trias Politica dengan extreme separation of power-nya. Padahal Hans Kelsen sudah memberikan gambaran dengan contoh riil bahwa tak ada lembaga negara yang dikategori murni sebagai eksekutif, yudikatif dan legislatif. Contohnya, MA itu selain memegang kekuasaan yudikatif juga memegang kekuasaan legislatif karena juga membuat Peraturan MA.

MA juga mempunyai fungsi eksekutif dalam mengatur penggunaan anggaran dan kepersonaliaan MA dan pengadilan-pengadilan di bawah MA. Presiden bersama-sama dengan DPR membuat UU. Presiden sendiri juga membuat Peraturan Pemerintah dan Peraturan Presiden. Berarti presiden itu juga legislatif. KPK sendiri juga membuat peraturan internal dan menyelenggarakan administrasi di lembaganya. KPK juga bisa disebut sebagai lembaga terkait dengan fungsi yudikatif.

Coba baca Pasal 38 UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, “Selain Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya serta Mahkamah Konstitusi, terdapat badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasan kehakiman.” Penjelasannya menjelaskan “Yang dimaksud dengan “badan-badan lain” antara lain kepolisian, kejaksaan, advokat, dan lembaga pemasyarakatan.” Kalau Saudara menggunakan analogi fungsi (atau dalam fiqihnya adalah qiyas), kan KPK masuk di dalamnya sebagai lembaga yang fungsinya terkait kekuasaan kehakiman (yufikatif).

Karena terlalu kaku dan formil dalam berpikir, maka jadilah keriuhan, rebut balung tanpa isi, seperti para guk guk yang berebut tulang tanpa gizi. Hal yang bukan masalah tapi dipermasalahkan serius sampai gontok-gontokan.

Ayolah yang santai saja. Kalau DPR mau memanggil MK atau MPR sekalipun untuk dimintai keterangan, ya nggak masalah wong DPR itu wakil rakyat. Lha cuma soal menggunakan hak untuk ngobrol aja kok dibikin ramai. Ngobrol dengan berdebat di dalam gedung DPR kan nggak apa-apa? Kalau perlu ada sedikit adegan saling lempar kursi, biar ada sedikit dramanya.

Makanya, salah sendiri MPR diturunkan kedudukannya dari lembaga tertinggi negara menjadi lembaga tinggi negara. Seumpama MPR dipertahankan menjadi lembaga tertinggi negara yang isinya wakil dari partai politik, utusan daerah, utusan golongan buruh, petani, nelayan, profesional, pengusaha, masyarakat adat, dan golongan lainnya, yang tidak menunjukkan dominasi golongan tertentu, maka MPR bisa menjadi penengah yang baik. MPR juga bisa membentuk panel macam: Panel HAM, Panel Pemberantasan Korupsi, Panel Informasi Publik, Panel  Rekrutmen Pejabat Negara dan macam-macam, sehingga kita juga tidak perlu harus menghidupi lembaga independen yang banyak macamnya itu. Panel dalam MPR semacam itu lebih layak untuk mengawasi kinerja KPK.  

Bagi para pembenci DPR hasil pemilihan umum itu, silahkan minta ke presiden Jokowi untuk bikin Perppu Pembubaran DPR ya! Hehehe..... Itu kalau Saudara mau serius.

Minggu, 23 April 2017

Ibu, Inilah Akibat Sebagai Anak Pembangkang Ibunya!


Dia meninggal pada hari Minggu Pon dalam ukuran kalender orang Jawa. Dia ibuku bernama Sarmi, meninggal pada hari Sabtu saat adzan maghrib tanggal 22 April 2017 atau tanggal 25 Rojab 1438 Hijriyah atau tanggal 26 Rejeb 1950 Jawa. Menurut perhitungan kalender orang Jawa, jika matahari telah senja maka hari itu sudah masuk perhitungan hari berikutnya, sehingga Sabtu sore dihitung masuk hari Minggu. Orang Jawa tidak mau tunduk kepada perhitungan sistem kalender manapun, tetapi sistem kalender luar ditundukkan kepada sistem perhitungan Jawa. Kalau dalam perhitungan kalender Masehi, hari dimulai dari setelah jam 24.00 (00.00) tengah malam. Orang Jawa dalam menggunakan sistem kalender Jawa yang dicampur nama-nama hari Masehi atau Hijriyah, tetap berpedoman kepada sistem perhitungan Jawa.

Ibuku meninggal di usia yang menurutku 92 tahun, berdasarkan catatan umurnya di Buku Nikah saat dia menikah dengan bapakku. Tapi menurut kakakku tertua (Gus Sampir), ibuku mencapai usia 97 tahun. Bisa jadi Gus Sampir yang lebih benar, sebab catatan umur dalam buku nikah itu mungkin  berdasarkan perkiraan. Semua berdasarkan perkiraan, karena hampir semua orang miskin dan buta huruf tidak mencatat tanggal lahir anak-anak mereka.

Saya sengaja mencatat waktu kematian ibuku dalam tulisan ini. Tak seperti waktu kelahirannya yang tak tercatat, sama halnya tanggal kelahiranku yang tak tercatat. Ketiadaan pencatatan hari kelahiran adalah salah satu ciri orang miskin yang tidak berpendidikan formal.

Ibuku pernah bercerita kepadaku, yang dalam ceritanya itu dia seolah-olah membanggakan kakeknya yang bernama Ronomito, seorang Kepala Desa di jaman penjajahan Belanda. Katanya, Mbah Ronomito itu membangkang kepada pemerintah kolonial Belanda, tidak mau menarik pajak kepada warganya, sehingga rumahnya dibakar oleh tentara Belanda. Perjuangan dengan cara membangkang membayar pajak itu mengingatkan pada cara perjuangan yang dilakukan oleh Samin Surosentiko dan para pengikutnya di Jawa.

Salah satu anak Mbah Ronomito adalah seorang perempuan bernama Kuning. Mbah Kuning menikah dengan Mbah Roso. Ibuku merupakan salah satu anak dari pasangan bernama Mbah Kuning dan Mbah Roso itu.

Ibuku terlahir sebagai anak keluarga miskin, meskipun kakeknya seorang Kepala Desa. Dia pernah bercerita kepadaku, dahulu dia pernah mendaftar sekolah, tetapi dia hanya masuk sekolah beberapa hari saja. Dia malu diolok-olok oleh teman-temannya karena bajunya yang paling jelek. Karena memang dia anak orang miskin. Akhirnya dia tidak mau bersekolah lagi karena malu.

Tapi saya tidak tahu dan tidak bertanya lebih detil, sekolah yang dimaksudkan saat itu berada di mana. Saya sendiri di tahun 1977-an saja sekolah SD di sekolahan yang jauh dari rumah, di dusun lain. Di dusun kami (Dusun Banggle, Lengkong, Nganjuk)) di tahun itu tidak ada sekolahan.

Di umur sekitar 16 tahun ibuku menikah. Dari pernikahan itu ibuku mempunyai 4 orang anak: 2 anak laki-laki dan 2 anak perempuan. Suaminya meninggal dunia, lalu ibuku menikah lagi dan mempunyai seorang anak perempuan. Tetapi suaminya yang kedua itu pergi meninggalkan ibuku dalam peristiwa 1965, sehingga ibuku mengurus perceraian, sebab sudah lama ditinggalkan oleh suaminya itu.

Sekitar tahun 1969 - 1970 ibuku bertemu dengan bapakku, dan mereka menikah. Bapakku saat itu adalah duda mempunyai seorang anak, dan ibuku adalah janda dengan 5 orang anak. Dari pernikahan dengan bapakku itulah ibuku melahirkan aku sebagai anaknya yang ke-6 atau yang terakhir.

Sejak muda ibuku sudah biasa bekerja keras, bangun sebelum subuh pergi ke pasar menjual sayur-sayuran hasil taninya. Di pasar itu ibuku mengulak barang-barang kebutuhan rumah tangga, lalu ibuku berkeliling menjual barang dagangannya yang digendong di punggungnya, berjalan kaki berkilo-kilo meter, terkadang ke dusun-dusun lain di tengah hutan.

Saya juga masih ingat saat saya masih kecil (belum usia sekolah), ibu dan bapakku sering mengajakku ke tegalan (ladang) di tengah hutan jati, ibuku membantu bapakku mencangkul di ladang di tengah hutan itu. Para perempuan desa mengerjakan pekerjaan yang berat-berat, seperti mencangkul tanah pertanian dan mencari kayu bakar di hutan.

Saat saya masih berumur sekitar 5 tahun, ibuku bercerai dengan bapakku. Itu bukan perceraian orang yang berantem, tapi perceraian akibat kebodohan orang yang kekurangan ilmu. Jadi, setelah janin ibuku (calon adikku) keguguran, ibuku sering sakit. Karena pada jaman itu kami jauh dari ahli kesehatan, dan kami merupakan kaum abangan, maka ibu dan bapakku berkonsultasi kepada seorang paranormal. Atas saran paranormal itu maka ibu dan bapakku bercerai. Katanya, kalau mereka tidak bercerai maka ibuku bisa meninggal dunia karena sebenarnya antara ibuku dengan bapakku itu tidak berjodoh.

Setelah saya dewasa saya baru tahu ternyata penyakit ibuku itu adalah infeksi kandungan, kata dokter yang memeriksanya. Pada jaman janin ibuku keguguran itu memang tidak ada yang namanya kuret. Kasus seperti itu ditangani sendiri, meskipun berdarah-darah. Tak ada paramedis. Rakyat desa hidup tanpa negara. Ibuku berkata, dia tidak mati saat mengalami pendarahan hebat itu karena mungkin Tuhan memberinya nyawa rangkap, guna menggambarkan bahwa mestinya secara akal sehat dia sudah mati kehabisan darah saat itu.

Setelah ibuku bercerai dengan bapakku, ibuku tinggal di rumahnya sendiri sebagai rumah bagian hasil gono-gininya, sendiri. Waktu itu aku tinggal bersama nenekku (Mbah Sukirah alias Mbah Ndung). Tak seperti orang kota yang rumit, saya melihat cara-cara orang dusun kami pada umumnya dalam membagi harta gono-gini dilakukan tanpa perselisihan. Ibu dan bapakku mempunyai 3 rumah sederhana berbahan kayu jati. Saat mereka bercerai, satu rumah diberikan kepada ibuku, satu rumah untuk bapakku dan satu rumah dijual supaya uangnya bisa dibagikan ke anak-anak ibuku dari suaminya terdahulu dan aku termasuk mendapatkan bagian Rp 100 ribu saat itu, bisa kubelikan seekor anak sapi.

Ketika itu, sebagai seorang janda ibuku bekerja mencari nafkah sendiri dengan cara berladang dan berdagang keliling kebutuhan dapur, seperti biasanya. Lama kelamaan saya menjadi ikut tinggal di rumah ibuku atas desakan dan rayuan ibuku yang tinggal sendiri di rumahnya. Anak-anaknya yang lain saat itu sudah berumah tangga sendiri-sendiri.

Pada waktu itu saya tahu bagaimana ibuku sebagai seorang janda sering digoda oleh para pria. Sampai suatu saat pernah ada seorang lelaki datang ke rumah ibuku, saya menyaksikan sendiri ibuku hendak diperkosa oleh lelaki yang sudah mempunyai isteri itu. Tetapi usaha pemerkosaan itu gagal karena ibuku secara fisik sangatlah kuat. Lelaki yang berusaha memperkosa ibuku itu kalah dalam perkelaian fisik melawan ibuku. Lalu lelaki itu keluar rumah ibuku dengan senyum-senyum sebagai pecundang. Orang Jawa mengistilahkan ingah-ingih, yakni senyuman salah tingkah orang kalah atau yang tak punya kehormatan. Kasus di hari buruk itu masih membekas dalam ingatanku hingga sekarang, dan saya betul-betul ingat wajah lelaki itu. Tetapi saya merahasiakan itu dari keluarga lelaki brengsek itu hingga sekarang. Ibuku dan aku tak mau melibatkan keluarganya yang tak bersalah apa-apa.

Setelah saya berumur 6 tahun, saya mendaftar sekolah SD. Saat itu saya biasanya bangun pagi dalam keadaan ibuku sudah tak ada di rumah karena sudah bangun lebih dulu dan pergi ke pasar menjual dagangannya, sayur-sayuran dan kentang hasil taninya. Saya biasa bangun sendiri, mandi, lalu melihat di meja sudah ada hidangan sarapan berupa nasi dan sambal terasi atau terkadang singkong liwet. Setelah itu saya berangkat ke sekolah berjalan kaki bersama teman-temanku. Pulang sekolah siang hari biasanya ibuku sudah ada di rumah. Lalu sekitar jam 02 siang ibuku pergi ke ladangnya hingga sore. Saya sering diajak ke ladangnya yang berada di tengah hutan jati. Ladang itu bukan miliknya sendiri, tapi tanah hutan yang dikelola Perhutani. Dalam penanaman hutan kembali, Perhutani biasa melibatkan warga sekitar hutan untuk membuka ladang dan menanami ladang itu dengan bibit kayu jati sambil menanami sekitar tanaman bibit jati itu dengan polowijo. Setelah bibit jati tumbuh agak tinggi maka warga pengelola ladang dilarang menanam agar tanaman jati yang tumbuh lebih tinggi tidak terganggu.

Ketika aku tinggal bersama ibuku yang sudah menjadi janda itu, biasanya aku tidur bersama ibuku. Dia selalu mendongengiku dengan dongeng-dongeng Panji dan banyak dongeng lainnya. Suatu saat di malam menjelang tidur itu ibuku berkata kepadaku, “Kamu kalau sudah besar nanti jadi pangon (buruh gembala), sehingga kamu mendapatkan upah sapi. Terus nanti sapi upahmu itu kamu berikan ke siapa, untuk aku atau bapakmu?” Tentu saja aku menjawab, “Aku berikan ke Biyung.” Sebagai orang miskin desa, aku memanggil ibuku dengan panggilan Yung atau Biyung, seperti keluarga miskin umumnya. Kalau, panggilan untuk ibu dari keluarga pegawai atau yang kaya biasanya Bu atau Ibu.

Itulah cita-cita ibuku untukku. Cita-cita orang miskin: Aku kelak menjadi buruh penggembala sapi alias pangon, agar mendapatkan upah berupa sapi. Ketika seseorang sudah mempunyai sapi, dia akan berternak sapi dan mengembangkannya, lalu sebagian dari sapi yang telah beranak-pinak itu dijual untuk membeli sawah dan rumah. Ibuku pernah memberikan wawasan seperti itu kepadaku, meraih masa depan dengan mengawali hidup menjadi pangon.

Lalu ibuku saat itu diajak menikah oleh seorang duda yang mempunyai 7 orang anak. Pria yang mengajak ibuku menikah itu bernama Warijo alias Ronokromo, orang yang sangat bersabar yang turut mendidikku sejak aku berumur sekitar 6 tahun. Dia orang yang dihormati di dusun kami karena ilmu spiritualnya dan kesabarannya. Dia terlatih kesabarannya karena dia mempunyai ilmu kanuragan yang hebat. Dia tak pernah memukul orang, sebab orang yang dipukulnya bisa mati karena dia mempunyai ajian atau ilmu kanuragan yang melekat. Itulah mengapa dia sangat sabar.

Akhirnya saya dan ibuku tinggal bersama dengan bapak tiriku yang bernama Warijo alias Ronokromo itu. Bapak tiriku itu pernah bercerita guyonan denganku. Katanya dia ogah menggunakan nama Ronokromo itu karena bisa diartikan rono-rono kromo atau ke mana-mana kawin. Lalu dia mengganti nama Ronokromo itu dengan nama lain, tapi saya lupa apa nama penggantinya.

Ibuku dan bapak tiriku itu dua sosok yang bertolak belakang secara karakter. Ibuku orang yang sangat tegas, galak dan banyak bicara. Tapi Pak Warijo alias Ronokromo adalah orang yang kalem, pendiam dan sangat sabar. Tapi mereka sama-sama sebagai orang abangan yang kaya dengan ilmu-ilmu mantera Jawa.

Salah satu kehebatan ibuku memang di soal mantera Jawa itu. Ibuku mendapatkan ilmu mantera yang banyak dengan cara “mencuri”, bukan dari berguru kepada para guru spiritual Jawa. Setiap ada orang tua yang mengucap mantera dengan cara agak keras, ibuku mendengarkan dengan seksama dan langsung bisa menghafalkannya. Daya ingat ibuku luar biasa, di atas rata-rata. Mungkin daya ingat ibuku seperti orang-orang Arab di masa lalu di mana daya hafal terhadap segala sesuatu dinilai sebagai kehormatan. Di Arab jaman dahulu, orang-orang yang belajar membaca dan menulis dianggap tidak mempunyai kehormatan sebagai penghafal yang kuat. Di masa tuanya, ibuku yang abangan itu belajar shalat dan menghafal beberapa ayat Al-Quran. Salah satu cucunya (keponakanku) bernama Yuliati berkata kepadaku, “Dia orang yang paling hebat diantara para temannya, begitu cepatnya dia bisa menghafal bacaan dan doa shalat serta ayat-ayat Al-Quran.”

Ibuku mempunyai mantera awet hidup, matera penyembuh sakit perut, mantera penenang bayi yang resah atau yang step, mantera penangkal petir, mantera ketika masuk ke rumah jenazah, dan banyak lagi yang lainnya. Salah satu mantera yang telah terbukti untuk dirinya sendiri adalah mantera awet urip (umur panjang).

Umur ibuku hingga hampir 100 tahun. Itupun karena ibuku merasa menyesal dengan mengamalkan mantera itu sehingga dia yang menginginkan segera mati, ternyata tidak segera mati. Tapi umur memang urusan Tuhan. Tiga bulan sebelum kematiannya ibuku sudah tak mau makan dengan harapan agar segera mati. Tapi aksi mogok makannya itu baru dijawab oleh Tuhan pada malam Minggu Pon lalu itu. Adzan Maghrib mengiringi kepergiannya, kematian yang telah lama dinantikannya. Sakaratul mautnya sangat tenang, kata Gus Pir yang menungguinya.

Setelah ibuku menikah dan hidup bersama dengan Pak Warijo alias Ronokromo maka ibuku merawat dan mendidik anak-anak tirinya (anak Pak Warijo) yang masih remaja dan anak-anak, yakni Supadi, Winarsih dan Sarto yang telah ditinggal mati ibunya. Anak-anak Pak Warijo yang sudah dewasa, yakni Yu Sri, Yu Tun dan Gus Tik sudah berumah tangga dan tinggal di dusun lain. Sedangkan anak Pak Warijo yang masih bayi sudah dirawat dan diambil anak oleh Mbok Si sebelum Pak Warijo menikahi ibuku.

Ibuku memperlakukan aku sama dengan dia memperlakukan anak-anak tirinya seperti Supadi, Winarsih dan Sarto. Bahkan ibuku menjadi sangat tegas kepadaku. Ibuku pernah berkata, “Kamu sekarang tinggal bersama bapak tirimu. Kamu sebagai anakku tidak boleh membuat malu ibu! Kamu harus bekerja membantu keluarga ini! Sepulang sekolah tidak boleh tidur, tapi harus bekerja, entah mencari kayu di hutan atau mencari rumput pakan sapi!” Ibuku mendidikku sangat keras yang dalam banyak hal saya sering tidak nyaman dengan kerasnya cara mendidikku.

Tapi sayapun tidak selalu menjadi penurut. Ketika di hari Minggu seharusnya saya menggembala kambing dan sapi milik kami. Dia juga meminta aku bekerja di ladang kami. Tapi terkadang sebelum ibuku bangun, di hari Minggu itu saya pergi membawa pancing masuk ke dalam hutan mencari sungai untuk memancing ikan. Saya ingin juga beristirahat dan sedikit bersenang-senang sebagai anak-anak. Ketika saya sore hari pulang membawa ikan hasil mincing itu, ibuku memarahiku dengan keras. Saya dibilang anak pemalas. “Apa yang kamu dapatkan dari hidup menjadi orang mancing yang pemalas itu? Kamu itu anak orang miskin! Kamu tidak sama dengan anak-anak orang lainnya yang bisa hidup leha-leha! Kamu jangan bikin malu ibumu! Kamu itu ikut bapak tiri, bukan bapakmu sendiri!” Bapak tiriku sendiri malah tak pernah menyuruhku ini itu. Sangat sabar.

Setelah memarahiku, ibuku menyuruhku mandi. Ibuku lalu memasak ikan hasil mancingku itu. Setelah aku selesai mandi, dia menyuruhku makan dengan lauk ikan hasil mancingku yang telah dimasaknya itu. Dia adalah ibuku. Dia ibuku… Dia sedang mendidikku untuk menjadi orang yang bertanggung jawab dan tahu diri agar mampu menyadari siapa diri saya.

Aku sering berkelahi dengan teman-temanku SD. Ketika saya pulang sekolah sampai di rumah ibuku marah-marah dan mencubit pahaku berkali-kali sampai kadang aku menangis karena tak tahan sakitnya. Suatu saat ada seorang nenek yang komplain kepada ibuku karena aku berkelahi dengan cucunya dan membuat mulut cucunya berdarah. Ibuku bilang kepada nenek itu, “Jangan kuatir Yu, aku akan menghajarnya! Bocah nakal ini memang kurang ajar jika tidak dihajar!” Lalu ibuku benar-benar menghajarku. Dia memberikan keadilan kepada orang yang menjadi korbanku. Dia adalah ibuku…. Dia ibuku yang sedang mendidikku tentang bagaimana mengorbankan diri dan perasaannya sendiri untuk memberikan perasaan keadilan kepada orang lain.

Aku pun lulus SD. Kebetulan menjadi lulusan teladan, hal yang sama sekali tak pernah saya bayangkan, sebab prestasi sekolahku biasa-biasa saja. Di antara teman-temanku, masih ada yang lebih pintar dariku. Itu namanya nasib baik sedang berpihak kepadaku, meski cuma sekadar stempel “lulusan teladan.” Ibuku dan bapak tiriku yang buta huruf itu tidak berani datang ke sekolah untuk menghadiri undangan acara perpisahan. Tak seperti para orang tua teman-temanku SD yang percaya diri, hadir di acara perpisahan itu. Saat pembawa acara memanggil orang tuaku ke depan untuk mendampingiku sebagai lulusan teladan, tentu saja orang tuaku tidak tahu, sebab mungkin mereka sedang bekerja di sawah atau hutan. Aku maju ke depan sendiri, dan aku hampir menangis karena tidak percaya dalam hidupku yang miskin, rendah dan keras itu bisa disebut sebagai “lulusan teladan.” 

Setelah aku dewasa aku berpikir, itu karena ibuku yang telah mendidikku, meskipun cita-cita ibuku sangat sederhana, agar aku menjadi seorang pangon sapi, karena mungkin ibuku tak sanggup dan malu untuk menatap bintang di atas langit.

Ibuku tak setuju saat aku mau melanjutkan sekolah ke SMP. “Kita orang miskin. Ibu tak punya uang untuk membiayai sekolahmu. Kamu ikut bapak tiri. Aku tak mau kamu jadi beban bapak tirimu,” kata ibuku. Tentu saja jawaban ibuku itu membuatku bersedih. Pada saat itu aku punya keinginan agar bisa melanjutkan sekolah. Saat itu pikiranku sederhana saja: sekolah bisa menjadi hiburanku, membuat aku bisa jeda dari hidup yang keras dan selalu harus bekerja keras di hutan dan sawah.

Aku pun bersitegang dengan ibuku. Aku mulai berani memberontak. Aku mengatakan bahwa aku ingin sekolah SMP. Para tetanggaku mendengarkan pembicaraanku yang keras dengan ibuku. Ada Yu Supi dan Yu Suminem. Mereka datang dan berkata kepada ibuku, “Mbah Mi, lha mbok ya biar saja Bagyo melanjutkan ke SMP. Dia itu sekolahnya pinter Mbah Mi!” Ibuku diam. Aku pun berkata, “Aku akan mencari biaya sekolah sendiri dengan berjualan kayu bakar.” Akhirnya ibuku setuju aku melanjutkan ke SMP.

Akupun harus bekerja lebih keras lagi. Setiap pulang sekolah, setelah makan dan shalat dzuhur aku pergi ke hutan mencari ranting-ranting kayu-kayu jati yang kering untuk saya jual ke pasar. Jam 03 pagi saya bangun memikul kayu bakar ke pasar yang jaraknya mungkin sekitar 5 KM dari rumahku. Tak bisa setiap hari aku bisa menjual kayu bakar, sebab saya pun harus menyediakan hari-hari untuk bekerja membantu keluarga, entah itu mencari kayu bakar di hutan atau membantu bekerja di ladang dan sawah ataupun mencari pakan sapi milik kami.

Saya pun bisa menyelesaikan SMP meski dengan terseok-seok. Setelah lulus SMP, pikiranku hampa, karena rasanya tak mungkin saya melanjutkan ke SMA. Padahal saya ingin terus sekolah. Saat itu saya barulah membenarkan cita-cita sederhana ibuku: saya menjadi buruh gembala (pangon) sapi, mendapatkan upah sapi sehingga saya mempunyai kehidupan yang lebih baik. Tapi setelah lulus SMP, semua sudah terlanjur dan berlalu. Saya pasti malu menjadi lulusan SMP yang bekerja menjadi pangon. Biasanya pangon itu adalah anak-anak atau remaja yang tidak sekolah atau paling banter lulus SD.

Setelah itu ibuku menjadi lebih memahami kehendakku untuk bisa terus bersekolah. Tetapi sayangnya kami miskin sehingga ibuku pun tak bisa menyekolahkan aku. Akupun mencari jalan yang berputar-putar berliku-liku untuk menempuh keinginan agar bisa bersekolah, sesuatu hal yang di kemudian hari baru saya sadari bahwa sekolah lanjutan bukanlah sesuatu yang menjadi satu-satunya alternatif usaha untuk membuat hidup lebih baik.

Dia adalah ibuku. Ketika pernah aku berselisih paham dengannya sehingga aku minggat pergi ke Surabaya menjadi gelandangan saat aku remaja, ibuku tetap mencariku dan dengan cara apapun dia ternyata bisa menemukanku dan mengajakku untuk pulang ke rumahnya. Sejak perisitiwa tahun 1988 saat saya minggat dan menggelandang di Surabaya itu maka ibuku menjadi lebih lunak kepadaku. Setelah itu aku berhasil menyelesaikan SMA selama 5 tahun sebab harus berkali-kali gagal sekolah karena ketidakmampuan ekonomi. Bisa sekolah SMA karena mengabdi kepada keluarga orang lain yang jauh yang bersedia menyekolahkanku. Akupun mulai menjadi jarang bertemu ibuku, hingga aku lulus SMA.

Ibuku tak berhasil membuatku untuk memenuhi cita-citanya agar aku menjadi seorang pangon yang kelak bisa mempunyai sapi yang beranak-pinak. Dalam perjalanan selanjutnya setelah aku lulus SMA. aku malah memilih menjadi seorang buruh pabrik untuk mencari uang demi bisa kuliah dan menjadi sarjana. Tetapi menjadi seorang sarjana ternyata tidak menjadi apa-apa dan siapa-siapa. Seorang sarjana tak lebih berharga dan bahagia dibandingkan dengan seorang mantan pangon sapi yang telah mempunyai sapi-sapi, sawah dan keluarganya di desa yang tentram.

Ada banyak cerita yang sangat panjang tentang ibuku. Hal yang membuatku senang adalah ketika menjelang akhir hidupnya saya berkesempatan untuk merawatnya meskipun jauh dari kata cukup. Dalam keadaan sakit saya menungguinya, dia berkata kepadaku, “Aku wis seneng, kowe wis nyembulih aku. Aku wis seneng.” (Aku senang, kamu sudah nyembulih aku. Aku senang).

Nyembulih adalah istilah Jawa yang tak mudah diterjemahkan. Nyembulih mempunyai makna semacam “balas budi”, tapi mengandung arti bercampur dengan hal yang materiil. Maksud ibuku, mungkin, aku dianggap sudah memberikan sesuatu yang membuatnya senang. Dia pernah bertanya kepadaku dalam pelukannya menjelang tidur malam saat aku masih kecil, “Kalau kamu nanti mendapatkan upah sapi, kamu akan memberikan sapi itu kepadaku atau kepada bapakmu?” Jika aku memberikan upah sapi itu kepada ibuku, berarti aku telah nyembulih  ibuku.

Tapi bentuk sembulihanku yang dikatakan ibuku menjelang akhir hayatnya itu tentu bukanlah seekor atau beberapa sapi. Mungkin hanya berupa rasa menang atas penghinaan yang pernah ia terima dari seseorang terpelajar pegawai pemerintah yang merasa kesulitan membiayai kuliah anaknya sehingga orang itu datang kepada ibuku dan berkata, “Kok Bagyo katanya kuliah ya Yu? Apa bisa dia meneruskan kuliahnya? Saya saja yang punya gaji ternyata tak cukup untuk biaya kuliah anakku di kota. Harus jual ini itu. Kok eman kalau dia buang-buang duit tapi akhirnya kuliahnya akan terhenti di tengah jalan. Uang dari mana dia bisa membiayai kuliahnya?” Ibuku pernah bercerita itu kepadaku sambil menangis dan berkata, “Apakah kamu akan membuat ibumu ini malu karena akhirnya kamu tak bisa meneruskan kuliah karena kamu ini tak mungkin bisa membiayainya? Kamu tahu kita ini orang miskin, jadi ya nggak usah macam-macam, nggak usah punya keinginan yang terlalu tinggi!” Ibuku bahkan malu dan segan untuk memandangi bintang di atas langit. Aku menghiburnya, “Aku punya gaji sebagai buruh untuk bisa cukup membiayai kuliahku. Aku juga mendapatkan beasiswa.” Ibuku pun bisa tenang, meski mungkin tetap cemas di sepanjang aku belum menyelesaikan kuliahku. Setelah aku berumah tangga, aku masih berusaha bisa nyembulih ibuku dengan cara yang mungkin kurang dari cukup.

Tapi dia adalah ibuku. Dia selalu mengkhawatirkan aku, dengan sering bertanya apakah penghasilanku cukup untuk menghidupi anak-anak dan istriku. Dia selalu mencemaskanku sebagai satu-satunya anak yang belum membelikan rumah untuk anak-anak dan isteriku. Tak seperti anak-anaknya yang lain yang sudah hidup normal mempunyai rumah, sawah dan perangkat hidup normal sebagai para keluarga.

Cita-cita ibuku yang sederhana itu telah terlaksana bagi semua anak-anaknya, yakni hidup cukup dengan mempunyai sarana hidup yang cukup sandang, pangan dan papan. Ibuku juga sebenarnya telah merancangku agar menjadi pangon sapi agar di masa depanku aku mempunyai cukup sandang, pangan dan papan. Tetapi aku sebagai satu-satunya anaknya yang membangkang atau memberontak dari cita-cita ibuku, karena saat itu tak aku pahami cara pikirnya yang berbeda denganku. Aku merasa seperti seorang yang kualat dan tersungkur karena pembangkanganku terhadap cita-cita ibuku itu.

Tapi dia adalah ibuku. Dia ibuku…… Ibu yang berusaha membuat aku tenang sehingga menjelang akhir hayatnya dia berkata, “Aku wis seneng, kowe wis nyembulih aku.” Mungkin satu-satunya yang bisa kupersembahkan kepada ibuku sebelum dia meninggalkan dunia ini adalah hayalan kosong tentang kebanggaannya bahwa dia seorang perempuan yang buta huruf dan miskin, yang bahkan malu untuk melihat bintang-bintang, bisa mempunyai anak seorang sarjana, padahal kesarjanaan itu tidak ada nilainya apa-apa. Setidaknya aku bisa menggagalkan penghinaan kepada ibuku itu, bahwa aku bisa menyelesaikan kuliahku meskipun kami orang miskin. Sebelum ibuku meninggal dunia aku bercerita kepadanya bahwa aku tak hanya seorang sarjana, tapi aku juga telah berhasil menjadi seorang magister hukum. Tapi dia tidak paham itu, dan dia kembali pada kecemasannya tentang nasibku, istriku dan anak-anakku. Mungkin sama seperti aku yang berusaha menghiburnya dengan kesombonganku dengan predikat-predikatku yang semu itu, maka menjelang akhir hayatnya dia menghiburku dengan kalimat, “Aku wis seneng, kowe wis nyembulih aku.”

Ada sebuah mimpi yang ibuku belum menemukan kenyataannya terhadap diriku. Ibuku pernah berkata, bahwa waktu aku kecil aku bercerita kepadanya tentang mimpiku, katanya aku pernah bermimpi menaikkan dan mengibarkan bendera merah-putih di saat mendung gelap dan hujan deras. “Mestinya kamu akan menjadi seperti apa yang pernah kamu mimpikan saat itu,” katanya, saat aku masih remaja dahulu.

Sekarang tugasku adalah terus berdoa untuknya. Kehidupan dunia ini adalah sebuah fase yang telah melewati fase-fase sebelumnya dan akan terus menempuh fase-fase berikutnya hingga manusia kembali kepada dari mana mereka berasal. Kelak mungkin saya akan meyadari, bahwa ada sekian banyak pikiran dan pamahamanku yang tidak benar.

Ibuku yang tak pernah membaca huruf-huruf dan kalimat, tapi bagiku dia lebih hebat dari para profesor yang menuliskan karya-karyanya yang besar, yang mungkin mereka akan kesulitan dan gagal untuk menjadi seseorang yang menjalani takdir seperti ibuku itu. Itu sekaligus menjadi pelajaran, bahwa manusia tak mampu memilih nasibnya sendiri untuk dilahirkan oleh perempuan atau ibu yang mana. Seorang anak manapun di dunia ini tak akan pernah mampu nyembulih jasa-jasa dan pengorbanan ibunya, meski ibunya harus terpaksa memberikan anaknya kepada ibu yang lain. Sebab darah yang tertumpah dan rasa sakit ibu saat melahirkan tak akan cukup ditebus dengan bumi dan isinya.

Surabaya, 24-4-2017